OMEGA 3 YANG BERMANFAAT UNTUK KECERDASAN ANAK ANDA18 September 2008
Khasiat
omega-3 kerap disebut-sebut orang. Konon, ia dibutuhkan sejak jabang
bayi sampai hari terakhir tinggal di Bumi. Toh tetap ada yang harus
diwaspadai ibu hamil dan anak-anak, terutama saat mengonsumsi ikan,
pangan yang paling banyak mengandung omega-3.
Istilah omega sendiri
berasal dari Bahasa Latin, artinya "ujung netral" atau "terakhir".
Dalam struktur kimia organik, apabila letak atau posisi ikatan rangkap
berada pada atom karbon ketiga terhitung dari gugus metil, asam lemak
itu dinamai omega-3.
Sementara di "alam
nyata", keberadaan omega-3 bisa dilacak pada setiap produk makanan yang
kemasannya mencantumkan kandungan linolenat, EPA, atau DHA.
Bisa tak pulih
Mari kita runut
manfaat omega-3. Buat bayi, zat gizi ini penting untuk perkembangan
fungsi saraf dan penglihatan. Bahkan jauh sebelum bayi lahir, persisnya
saat proses tumbuh kembang otak janin mulai berjalan, ibu hamil sangat
dianjurkan mengonsumsi pangan sumber omega-3.
Fase cepat tumbuh
otak pada janin terjadi ketika berusia 30 minggu sampai 18 bulan. Pada
fase ini, jika janin kekurangan gizi, akan terjadi kondisi irreversible
(tidak dapat pulih). Otak anak-anak sendiri masih tumbuh sampai usia
sekitar lima tahun. Tak heran, usia balita disebut golden age yang
harus terhindar dari kondisi kekurangan gizi.
Di usia dewasa,
omega-3 punya peran khusus. Otak, susunan saraf pusat, saraf tulang
punggung, sebagian besar terdiri atas asam lemak tidak jenuh
(esensial). Terjadinya degenerasi (kerusakan) susunan saraf banyak
disebabkan oleh kurangnya asam lemak esensial ini (omega-3
dan omega-6), menyebabkan premature senile dementia, atau hilangnya
daya ingat di usia menengah dan turunnya fungsi otak secara drastis.
Omega-3 juga berperan
penting dalam meningkatkan kekebalan tubuh dan menghambat beberapa
jenis kanker. Ia juga menurunkan risiko penyakit jantung koroner hingga
50%, menekan kolesterol jahat (LDL) sehingga mengurangi risiko
aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah) yang sering menyebabkan
penyakit jantung koroner atau stroke.
Sejumlah negara maju
(Kanada, Swedia, Inggris, Australia, dan Jepang) dan WHO telah
menetapkan rekomendasi tentang asupan omega-3 untuk setiap orang, yaitu
0,3 - 0,5 g/hari (EPA + DHA) dan 0,8 - 1,1 g/hari (asam linolenat).
Sementara lembaga lain menyarankan asupan linolenat 0,6 - 1,2% dari
total energi atau 1,3 - 2,7 g/hari berdasarkan konsumsi energi 2.000
Kkal.
Batas bawah yang
ditetapkan, yakni 1,3 g/hari, adalah asupan cukup untuk mencegah
defisiensi asam linolenat, sedangkan batas atas ditetapkan berdasarkan
asupan tertinggi dari survai konsumsi individu di Amerika Serikat dan
Kanada. Angka tadi dimaksudkan untuk mempertahankan kesehatan yang
optimal, bukan pencegahan penyakit kronis.
Telur sakti
Di pasaran bisa
dijumpai telur yang mengandung omega-3 tinggi. Untuk menghasilkan telur
ini, ayam diberi pakan biji-bijian, minyak nabati dan suplemen vitamin
E. Sebaliknya, pakan dari sumber hewani dihilangkan. Ini merupakan
terobosan untuk mengantisipasi salah satu sisi negatif telur, pangan
sumber kolesterol yang ditakuti oleh sebagian masyarakat.
Sayangnya, telur kaya
omega-3 itu ternyata rendah landungan omega-6-nya. Padahal, omega-6
bermanfaat untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan, gangguan
fertilitas, kerapuhan sel darah merah, dan gangguan pada sistem
kekebalan tubuh. Sumber utama omega-6 ini adalah biji bunga matahari
dan kedelai.
Ikan-ikan laut dalam
diketahui kaya akan kandungan omega-3. Namun, dalam proses pengolahan
(precooking dan sterilisasi), seperti pada ikan sarden, omega-3-nya
banyak yang rusak. Pada saat precooking, misalnya, minyak ikan yang
kaya omega-3 terbuang atau lebih banyak digunakan sebagai pakan ternak.
Sebagai gantinya, kalangan industri melakukan proses pengayaan.
Pemanasan juga
berpotensi menurunkan kandungan asam lemak omega. Namun, ibu-ibu di
rumah tidak perlu khawatir, memasak dengan microwave (suhu 110oC,
selama enam menit) tidak akan menyebabkan kerusakan asam lemak omega
secara berarti.
Untuk mendapatkan
asupan gizi omega-3 sesuai anjuran, setiap orang hendaknya mengonsumsi
ikan dua kali seminggu, terutama ikan berlemak. Kadar omega-3 ikan
bervariasi, tergantung spesiesnya dan lingkungan tempat ikan tinggal.
Ikan lele yang sengaja dipelihara mengandung omega-3 lebih rendah
dibandingkan dengan lele liar yang hidup di perairan. Tapi ikan salmon,
kandungan omega-3-nya relatif sama, baik yang dipelihara maupun yang
hidup bebas.
Tapi hati-hati, ikan
yang hidup di perairan tercemar akan menjadi ancaman bagi kesehatan.
Cemaran itu bisa berupa dioksin, merkuri, atau kontaminan lainnya. Oleh
karena itu, anak-anak kecil atau ibu hamil sebaiknya berhati-hati dalam
memilih dan mengonsumsi ikan, karena mereka termasuk golongan rawan
yang mudah terpapar cemaran.
Sebaliknya, mereka
bukan kelompok yang berisiko menderita serangan penyakit jantung.
Sementara orang-orang berusia setengah baya dan wanita menopause,
konsumsi ikan menjadi sangat penting karena efek pencegahannya terhadap
penyakit jantung lebih menonjol dibandingkan dengan risiko kesehatan
akibat cemaran yang mungkin ada di dalamnya.
Untuk menghindari
dampak buruk akibat cemaran, sebaiknya ikan yang dimakan beragam, tidak
mengandalkan hanya pada 1 - 2 jenis ikan.
Apabila yakin
perairan di sekitar kita relatif bersih dan minim cemaran, konsumsi
ikan sejak dini sangat diajurkan untuk membentuk pola makan yang
sehat.
Khusus penderita
penyakit jantung koroner, sebaiknya tidak mengandalkan konsumsi ikan
saja sebagai satu-satunya sumber omega-3.
Apalagi konsumsinya
harus bersifat jangka panjang. Mengonsumsi suplemen minyak ikan yang
sekarang banyak dijual secara komersial dapat dipertimbangkan.
Namun, seperti biasa, sebelum mengonsumsi, tanyakan dosis yang tepat pada ahlinya.
Sumber : http://www.depkes.go.id
|